Kalau saya perhatikan, lima sampai sepuluh tahun belakangan ini, sangat marak pembangunan hunian vertikal (
vertical housing), seperti rumah susun, apartemen, kondominium, atau apa
lah
itu istilahnya. Terlebih di kota besar seperti Jakarta. Biasanya
bangunannya terintegrasi dengan bangunan lain seperti mal atau kantor.
Harganya juga, setahu saya, amat fantastis. Harus merogoh kantong cukup
dalam untuk menebusnya.
Saya sendiri cuma bisa jadi “pengamat” saja. Saya tidak pernah
memiliki unit apartemen, jadi otomatis saya tidak pernah tinggal di
apartemen.
Saya hanya bisa melihat dari kejauhan sambil bertanya-tanya: bagaimana
sih rasanya tinggal di apartemen?
Setidaknya sampai saat ini, saya sama sekali tidak berminat membeli unit apartemen. Selain karena memang
gak punya
duit, saya membayangkan betapa bosannya tinggal di bangunan seperti
itu. Di masa depan, ketika akan membeli hunian, pilihan saya tetap pada
perumahan “normal” saja. Kalaupun ada kelebihan uang dan akhirnya
membeli unit apartemen, mungkin cuma untuk dijadikan “
back-up” atau sarana investasi semata. Hunian utamanya
ya tetap di perumahan “normal” tadi.
Beberapa waktu yang lalu, sahabat saya, seorang teman dari SD, SMP, sampai SMA, mengajak saya untuk
nginep di apartemennya di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan. Rencananya, kami mau lari pagi di
car free day
(CFD) yang rutin diselenggarakan di sepanjang Jalan Sudirman – Thamrin,
Jakarta. Jadi supaya lebih enak berangkatnya (baca: lebih dekat), saya
disuruh
nginep di apartemennya.
Saya sendiri baru tahu kalau dia tinggal di apartemen. Selama ini dia
selalu bilang kalau dia tinggal di Kalibata, di tempat tantenya.
Ternyata, dia sudah cukup lama menempati sebuah unit apartemen di lantai
16.
Saya tinggal di apartemennya dua hari satu malam. Kurang dari 24 jam
lamanya. Banyak pengalaman baru yang saya dapatkan, juga cerita-cerita
menarik yang diceritakan oleh sahabat saya itu.
Apartemen, agaknya memang semakin menjadi
trend baru hunian di
Indonesia, khususnya di kota besar. Sebenarnya, model hunian vertikal
semacam ini sudah ada dari dulu. Di daerah Klender misalnya, sejak dulu
di sana ada rumah susun yang dikelola oleh Perum Perumnas. Pakde saya
dulu tinggal di salah satu unitnya, jadi sewaktu kecil saya sering main
ke sana.
Memang bangunannya tidak tinggi menjulang seperti apartemen zaman sekarang. Paling hanya 4 – 5 lantai. Bangunannya juga biasa,
gak
ada bagus-bagusnya. Sangat dekil bahkan. Kesan yang timbul, hunian
tersebut adalah hunian murah untuk golongan ekonomi bawah. Maaf, tidak
ada maksud melecehkan, tapi itu memang kesan yang saya tangkap.
Kadang, saya salut sama yang namanya
developer alias
pengembang properti. Mereka bisa “menyulap” lahan tak bernilai, menjadi
kawasan fungsional berharga selangit. Lihat saja kawasan Kelapa Gading.
Kata orang tua saya yang asli Jakarta, daerah Kelapa Gading itu dulu
rawa-rawa sepi nan horor. “Tempat jin buang anak” istilahnya. Sekarang?
Jangan tanya. Harga tanahnya selangit. Anak jin yang terbuang sepertinya
gak sanggup membelinya.
Semua itu hasil pengembangan yang dilakukan oleh si pengembang
properti tadi. Dengan cermat, mereka membuat tanah yang tadinya tak
bernilai sama sekali menjadi bernilai sangat tinggi. Mereka menciptakan
“peradaban” baru di sana. Mereka mengembangkan kawasan dengan membuka
akses, membangun hunian, dan membangun berbagai fasilitas pendukung yang
terintegrasi satu sama lain.
Salah satu produk pengembang properti adalah hunian vertikal, apartemen misalnya. Kalau boleh
nebak,
kecenderungan para pengembang lebih memilih membangun hunian vertikal,
terutama di tengah kota, adalah karena terbatasnya lahan. Lahan yang
sempit, tentu tidak memungkinkan untuk dibuat perumahan “normal”.
Karenanya, dibangunlah hunian yang “menumpuk” ke atas.
Awalnya saya
mikir, apa ada orang yang mau tinggal di hunian yang saling “tindih menindih” begitu
.
Tapi pada kenyataannya, kalau diperhatikan, ada juga. Sangat banyak
bahkan. Apartemen itu, sejauh yang saya perhatikan, bahkan ketika
bangunannya belum jadi, belum dibangun, bahkan
ground breaking aja belum, sudah laku keras. Sudah laku terjual semua unitnya, atau sebagian besanya
lah.
Ada beberapa faktor kalau boleh
nebak lagi. Pertama,
developer
tidak sekadar membangun apartemennya saja, tapi juga berbagai fasilitas
pendukungnya, seperti pusat perbelanjaan, pusat bisnis, juga akses
jalan. Termasuk dalam hal ini, pemilihan lokasi. Biasanya pengembang
memilih lokasi yang strategis. Strategis menurut mereka: berada dekat
kawasan aktivitas manusia, seperti perkantoran, kampus, pusat
perbelanjaan, dan lainnya. Kalaupun dirasa kurang strategis,
ya gimana caranya pokoknya dibuat jadi strategis.
Kedua,
developer benar-benar serius menggarap urusan
branding dan
marketing, tidak main-main. Mereka menarik calon pembeli potensial dengan berbagai cara. Iklan di media misalnya,
jor-joran sekali. Bahkan ada yang membeli
slot acara di TV selama setengah jam sampai satu jam untuk
ngiklanin produk apartemen mereka. Ketika me-
launching produk, caranya juga unik. Misalnya saja, diskon
gede–
gedean selama periode tertentu, harga naik mulai hari senin (
gak ngerti saya kenapa selalu senin yang dipilih), undian berhadiah mobil, dan sebagainya.
Mereka juga seolah mem-“
brainwash” masyarakat dengan
memperkenalkan gaya hidup modern ala mereka. Bahwa manusia modern zaman
sekarang itu tinggal di apartemen, di lokasi yang strategis di pusat
kota, dekat dengan tempat kerja, terintegrasi dengan berbagai fasilitas
pendukung yang membuat hidup menjadi semakin mudah, dan sebagainya.
Intinya, semuanya dikemas dalam konsep
marketing yang apik dan
gak setengah-setengah.
Ketiga, didukung oleh daya beli masyarakat yang meningkat. Pak SBY
selalu bangga dengan prestasinya yang berhasil menjaga pertumbuhan
ekonomi di atas 6% dan menjaga Indonesia tidak ikut kolaps ketika negara
lain ekonominya bermasalah. Salah satu konsekuensi pertumbuhan ekonomi,
yang pernah saya baca, adalah meningkatnya daya beli masyarakat, yang
selanjutnya memunculkan banyak kelas menengah. Kelas menengah inilah,
ditambah dengan kelas atas tentunya, yang menjadi penebus unit-unit
apartemen yang ditawarkan oleh pengembang.
Satu hal yang saya pikirkan ketika sedang berjalan menyusuri lorong
menuju kamar sahabat saya adalah masalah sosialisasi antar penghuni.
Apakah dengan model bangunan seperti itu menciptakan masyarakat yang
individual? Entahlah. Menurut penuturan sahabat saya itu, dia sendiri
tidak kenal tetangga kanan kiri depan belakangnya. Padahal sudah sekian
tahun tinggal di sana.
Satu-satunya wadah sosialisasi yang dia lakukan adalah main basket di lapangan basket bersama yang tersedia di setiap
tower. Dia memang penghobi basket, jago
banget
mainnya. Dari sana, dia mengenal beberapa orang penghuni lain. Hanya
saja, penghuni yang dia kenal itu tinggal di lantai berbeda, yang cukup
jauh dari unitnya.
Apalagi, kebijakan pengelola apartemennya lumayan unik. Kartu akses
yang dimiliki setiap penghuni, yang salah satu fungsinya sebagai “kunci”
lift, hanya membolehkan penghuni menekan tombol lantai di mana
lokasi unitnya berada. Jadi, kalau dia tinggal di lantai 16, maka tombol
lift yang bisa dipencet hanya tombol angka 16 dan lantai dasar (
ground; G).
Tapi saya pikir, harusnya ada juga apartemen yang punya sosialisasi
yang “normal” antar penghuninya seperti di perumahan pada umumnya,
misalnya menyelenggarakan arisan, pengajian, semacam rapat RT, lomba
17-an, dan sebagainya. Entahlah, saya tidak tahu. Cuma berkeyakinan,
harusnya ada.
Tinggal di apartemen itu pilihan, sama seperti banyak hal lain dalam
hidup. Setelah pengalaman 24 jam kurang sedikit tinggal bersama sahabat
saya di apartemennya, saya tetap pada kecenderungan yang saya ceritakan
di awal tadi: tidak berminat, atau mungkin, belum berminat tinggal di
apartemen.
Apartemen ini berada di kelender, jakarta kota.