Tinggal di Apartemen
Saya sendiri cuma bisa jadi “pengamat” saja. Saya tidak pernah memiliki unit apartemen, jadi otomatis saya tidak pernah tinggal di apartemen. Saya hanya bisa melihat dari kejauhan sambil bertanya-tanya: bagaimana sih rasanya tinggal di apartemen?
Setidaknya sampai saat ini, saya sama sekali tidak berminat membeli unit apartemen. Selain karena memang gak punya duit, saya membayangkan betapa bosannya tinggal di bangunan seperti itu. Di masa depan, ketika akan membeli hunian, pilihan saya tetap pada perumahan “normal” saja. Kalaupun ada kelebihan uang dan akhirnya membeli unit apartemen, mungkin cuma untuk dijadikan “back-up” atau sarana investasi semata. Hunian utamanya ya tetap di perumahan “normal” tadi.
Beberapa waktu yang lalu, sahabat saya, seorang teman dari SD, SMP, sampai SMA, mengajak saya untuk nginep di apartemennya di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan. Rencananya, kami mau lari pagi di car free day (CFD) yang rutin diselenggarakan di sepanjang Jalan Sudirman – Thamrin, Jakarta. Jadi supaya lebih enak berangkatnya (baca: lebih dekat), saya disuruh nginep di apartemennya.
Saya sendiri baru tahu kalau dia tinggal di apartemen. Selama ini dia selalu bilang kalau dia tinggal di Kalibata, di tempat tantenya. Ternyata, dia sudah cukup lama menempati sebuah unit apartemen di lantai 16.
Saya tinggal di apartemennya dua hari satu malam. Kurang dari 24 jam lamanya. Banyak pengalaman baru yang saya dapatkan, juga cerita-cerita menarik yang diceritakan oleh sahabat saya itu.
Apartemen, agaknya memang semakin menjadi trend baru hunian di Indonesia, khususnya di kota besar. Sebenarnya, model hunian vertikal semacam ini sudah ada dari dulu. Di daerah Klender misalnya, sejak dulu di sana ada rumah susun yang dikelola oleh Perum Perumnas. Pakde saya dulu tinggal di salah satu unitnya, jadi sewaktu kecil saya sering main ke sana.
Memang bangunannya tidak tinggi menjulang seperti apartemen zaman sekarang. Paling hanya 4 – 5 lantai. Bangunannya juga biasa, gak ada bagus-bagusnya. Sangat dekil bahkan. Kesan yang timbul, hunian tersebut adalah hunian murah untuk golongan ekonomi bawah. Maaf, tidak ada maksud melecehkan, tapi itu memang kesan yang saya tangkap.
Kadang, saya salut sama yang namanya developer alias pengembang properti. Mereka bisa “menyulap” lahan tak bernilai, menjadi kawasan fungsional berharga selangit. Lihat saja kawasan Kelapa Gading. Kata orang tua saya yang asli Jakarta, daerah Kelapa Gading itu dulu rawa-rawa sepi nan horor. “Tempat jin buang anak” istilahnya. Sekarang? Jangan tanya. Harga tanahnya selangit. Anak jin yang terbuang sepertinya gak sanggup membelinya.
Semua itu hasil pengembangan yang dilakukan oleh si pengembang properti tadi. Dengan cermat, mereka membuat tanah yang tadinya tak bernilai sama sekali menjadi bernilai sangat tinggi. Mereka menciptakan “peradaban” baru di sana. Mereka mengembangkan kawasan dengan membuka akses, membangun hunian, dan membangun berbagai fasilitas pendukung yang terintegrasi satu sama lain.
Salah satu produk pengembang properti adalah hunian vertikal, apartemen misalnya. Kalau boleh nebak, kecenderungan para pengembang lebih memilih membangun hunian vertikal, terutama di tengah kota, adalah karena terbatasnya lahan. Lahan yang sempit, tentu tidak memungkinkan untuk dibuat perumahan “normal”. Karenanya, dibangunlah hunian yang “menumpuk” ke atas.
Awalnya saya mikir, apa ada orang yang mau tinggal di hunian yang saling “tindih menindih” begitu. Tapi pada kenyataannya, kalau diperhatikan, ada juga. Sangat banyak bahkan. Apartemen itu, sejauh yang saya perhatikan, bahkan ketika bangunannya belum jadi, belum dibangun, bahkan ground breaking aja belum, sudah laku keras. Sudah laku terjual semua unitnya, atau sebagian besanya lah.
Ada beberapa faktor kalau boleh nebak lagi. Pertama, developer tidak sekadar membangun apartemennya saja, tapi juga berbagai fasilitas pendukungnya, seperti pusat perbelanjaan, pusat bisnis, juga akses jalan. Termasuk dalam hal ini, pemilihan lokasi. Biasanya pengembang memilih lokasi yang strategis. Strategis menurut mereka: berada dekat kawasan aktivitas manusia, seperti perkantoran, kampus, pusat perbelanjaan, dan lainnya. Kalaupun dirasa kurang strategis, ya gimana caranya pokoknya dibuat jadi strategis.
Kedua, developer benar-benar serius menggarap urusan branding dan marketing, tidak main-main. Mereka menarik calon pembeli potensial dengan berbagai cara. Iklan di media misalnya, jor-joran sekali. Bahkan ada yang membeli slot acara di TV selama setengah jam sampai satu jam untuk ngiklanin produk apartemen mereka. Ketika me-launching produk, caranya juga unik. Misalnya saja, diskon gede–gedean selama periode tertentu, harga naik mulai hari senin (gak ngerti saya kenapa selalu senin yang dipilih), undian berhadiah mobil, dan sebagainya.
Mereka juga seolah mem-“brainwash” masyarakat dengan memperkenalkan gaya hidup modern ala mereka. Bahwa manusia modern zaman sekarang itu tinggal di apartemen, di lokasi yang strategis di pusat kota, dekat dengan tempat kerja, terintegrasi dengan berbagai fasilitas pendukung yang membuat hidup menjadi semakin mudah, dan sebagainya.
Intinya, semuanya dikemas dalam konsep marketing yang apik dan gak setengah-setengah.
Ketiga, didukung oleh daya beli masyarakat yang meningkat. Pak SBY selalu bangga dengan prestasinya yang berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 6% dan menjaga Indonesia tidak ikut kolaps ketika negara lain ekonominya bermasalah. Salah satu konsekuensi pertumbuhan ekonomi, yang pernah saya baca, adalah meningkatnya daya beli masyarakat, yang selanjutnya memunculkan banyak kelas menengah. Kelas menengah inilah, ditambah dengan kelas atas tentunya, yang menjadi penebus unit-unit apartemen yang ditawarkan oleh pengembang.
Satu hal yang saya pikirkan ketika sedang berjalan menyusuri lorong menuju kamar sahabat saya adalah masalah sosialisasi antar penghuni. Apakah dengan model bangunan seperti itu menciptakan masyarakat yang individual? Entahlah. Menurut penuturan sahabat saya itu, dia sendiri tidak kenal tetangga kanan kiri depan belakangnya. Padahal sudah sekian tahun tinggal di sana.
Satu-satunya wadah sosialisasi yang dia lakukan adalah main basket di lapangan basket bersama yang tersedia di setiap tower. Dia memang penghobi basket, jago banget mainnya. Dari sana, dia mengenal beberapa orang penghuni lain. Hanya saja, penghuni yang dia kenal itu tinggal di lantai berbeda, yang cukup jauh dari unitnya.
Apalagi, kebijakan pengelola apartemennya lumayan unik. Kartu akses yang dimiliki setiap penghuni, yang salah satu fungsinya sebagai “kunci” lift, hanya membolehkan penghuni menekan tombol lantai di mana lokasi unitnya berada. Jadi, kalau dia tinggal di lantai 16, maka tombol lift yang bisa dipencet hanya tombol angka 16 dan lantai dasar (ground; G).
Tapi saya pikir, harusnya ada juga apartemen yang punya sosialisasi yang “normal” antar penghuninya seperti di perumahan pada umumnya, misalnya menyelenggarakan arisan, pengajian, semacam rapat RT, lomba 17-an, dan sebagainya. Entahlah, saya tidak tahu. Cuma berkeyakinan, harusnya ada.
Tinggal di apartemen itu pilihan, sama seperti banyak hal lain dalam hidup. Setelah pengalaman 24 jam kurang sedikit tinggal bersama sahabat saya di apartemennya, saya tetap pada kecenderungan yang saya ceritakan di awal tadi: tidak berminat, atau mungkin, belum berminat tinggal di apartemen.
Apartemen ini berada di kelender, jakarta kota.