Rabu, 29 Juli 2015

Thamrin District Bekasi


            

Kota Bekasi Menyimpan Potensi Yang Besar


BY 3 November 2014 Fitur
Bekasi Indonesia
Bila Anda memperhatikan selama beberapa minggu terakhir, Bekasi menjadi pembicaraan yang hangat di media maupun jejaring sosial di Indonesia, khususnya daerah ibukota. Yang menjadi topik pembicaraan adalah kesulitan yang umumnya dialami oleh penduduk daerah Bekasi yang disebabkan oleh buruknya infrastruktur, lalu lintas yang padat, cuaca panas dan waktu tempuh yang lama dari Jakarta. Semua isu ini tersebar di sosial media dalam bentuk teks dan gambar satir.
Melihat fenomena ini, portal properti global Lamudi melakukan survei dan menemukan bahwa, 81% dari penduduk yang tidak sedang tinggal di Bekasi ternyata tidak tertarik untuk pindah ke Bekasi, sementara 75% penduduk Bekasi malah berkeinginan untuk pindah dari kota tersebut, apabila mereka diberi pilihan untuk itu. Alasan yang paling utama adalah kondisi lalu lintas yang buruk, di samping ketersediaan infrastruktur, hiburan dan faktor lainnya.
Persentase jumlah jalanan di Bekasi saat ini hanya sebesar lima persen, padahal dengan total area 661 kilometer persegi, Bekasi mempunyai setidaknya 20% porsi maksimum untuk jalan raya sebagaimana dilansir dari The Jakarta Post. Sebagai hub yang menghubungkan pusat pabrik dan industri di Cikarang ke Karawang dan juga ke Jakarta, kemudian ke pelabuhan Merak, Bekasi jelas tidak bisa menghindari arus lalu lalang kendaraan besar dari dan menuju pabrik. Hal inilah yang membuat penduduk Bekasi harus menempuh perjalanan 3, 4 sampai dengan 5 jam per harinya apabila mereka bekerja di Jakarta.
Namun, walaupun pemberitaan media akhir-akhir ini tidak menguntungkan bagi Bekasi, tidak menutup kenyataan bahwa Bekasi mempunyai banyak potensial. Dengan pertumbuhan penduduk sebesar 2.77% pada tahun 2013, bahkan lebih besar dari rata-rata pertumbuhan penduduk di Indonesia, sebenarnya laju pertumbuhan ini memiliki beberapa dampak positif. Portal properti global, Lamudi mengumpulkan rangkuman perkembangan Bekasi dan potensi wilayah ini di masa depan.

Bisnis dan Investasi

bekasi
© Ingimage
Banyak perusahaan kelas dunia seperti: Mattel, Danone, Coca-Cola, Honda dan Bridgestone telah mendirikan pabrik mereka di Bekasi yaitu di area Cikarang dan Jababeka, menjadikan Bekasi sebagai basis dari industri nasional dan berkontribusi besar untuk perekonomian negara. Pemerintah kota telah menargetkan nilai investasi asing dan domestik di Bekasi sampai 86 Triliun atau naik 11.5% dari tahun lalu.
Bekasi juga telah tumbuh secara pesat selama 15 tahun terakhir, dengan 90% perkembangan kotanya didominasi oleh kawasan perumahan. Cushman & Wakefield melaporkan bahwa Bekasi adalah kota dengan potensi terbaik di Jabodetabek untuk penjualan properti residensial sebesar 93.2%, dan dibandingkan kota lain mempunyai tingkat hunian (occupancy rate) terbesar yaitu 85.8%. Dengan semakin banyaknya permintaan untuk properti residensial di Bekasi, harga tanah di kota ini diprediksi akan naik dengan cepat setiap tahunnya, dan sesuai untuk investasi masa depan.

Hiburan

Ada banyak hiburan yang tersedia bagi 6 juta orang yang saat ini bertempat tinggal di kota maupun kabupaten Bekasi. Daerah ini merupakan rumah dari salah satu penangkaran buaya terbesar di Asia dengan lebih dari 500 ekor buaya yang terdapat di Taman Buaya Indonesia Jaya. Lippo Waterboom menyajikan taman rekreasi air yang bertemakan Bali. Dibangun oleh grup Lippo, tempat ini berlokasi di kompleks perumahan Lippo di Cikarang.
Trans Corpora juga telah merencanakan pembangunan Trans Studio ketiganya di Bekasi. Taman rekreasi indoor ini ditengarai akan menjadi yang terbesar mengalahkan dua lokasi sebelumnya di Makassar dan Bandung.

Infrastruktur

Jakarta Central at beautiful sunset. Indonesia
© Ingimage
Pada tahun 2018, akan ada 23 mall yang menghiasi Bekasi. Para developer ternama Indonesia seperti Sinar Mas Land, Lippo Group, Agung Sedayu dan Summarecon Agung berlomba-lomba menyelesaikan proyeknya di kota ini. Kemudian di daerah Bekasi Timur, sedang dibangun proyek mixed use Bekasi Trade Center City (BTC City) yang diharapkan akan selesai dalam 5 tahun ke depan. Proyek ini akan menghasilkan menara-menara terhubung yang berisi apartemen, pusat perbelanjaan, hotel dan rumah sakit.
Semua perkembangan ini kelak membuat Bekasi menjadi salah satu kota terbaik untuk dihuni. Dengan munculnya pemberitaan buruk yang bertubi-tubi seputar Bekasi, pemerintah daerah pun terlihat mulai menyadari hal ini dan perlahan mencoba untuk memperbaiki infrastrukturnya. Dengan memprioritaskan kondisi lalu lintas sebagai isu yang paling mendesak, pemerintah sudah mengambil langkah yang tepat dengan dilanjutkannya proyek jalan tol yang menghubungkan Bekasi dengan area luar Jakarta yang sempat terhenti pengerjaannya pada akhir 90’an saat terjadi krisis. Proyek ini diharapkan selesai sekurangnya 36 bulan (3 tahun) ke depan dan akan mengurangi kemacetan yang kerap terjadi antara Bekasi dan Jakarta sehingga daerah-daerah di Bekasi tidak lagi menjadi daerah yang disepelekan, diejek atau bahkan ‘dibully’.
Bisnis properti di Palembang diramalkan akan menanjak pada tiga tahun yang akan datang atau bertepatan pada acara akbar Asian Games 2018, dengan prediksi pada saat itu masyarakat dalam kelas menengah ke atas telah menyadari akan fungsi penting hunian vertikal.
Harriadi Benggawan, menjabat sebagai Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) di Provinsi Sumatera Selatan mengatakan, kini masyarakat di daerah Palembang mulai menyadari kegunaan apartemen, seiring dengan boomingnya penawaran dalam empat tahun terakhir ini.
Diperkirakan waktu puncak banyak masyarakat yang membeli apartemen adalah pada tahun 2018, dengan dibarengi pertumbuhan Kota Palembang yang menjadi kota metropolitan.
Ujar Harriadi pada hari Jumat 15 Mei “Kini sedang tahap pengenalan dan promosi, dan nanti sekitar dua sampai tiga tahun yang akan datang baru akan terlihat hasilnya. Banyak dari kalangan menengah atas yang akan berminat tinggal di apartemen,”
Hirriadi pun menambahkan, beberapa fasilitas yang diperoleh ketika memilih tinggal di apartemen. Terjaminnya keamanan dan mudah terjangkau karna biasanya apartemen berada di pusat kota.
“Kota Palembang nantinya akan terus tumbuh menjadi kota metropolis. Dikarenakan bangunan apartemen akan jadi suatu kebutuhan masyarakat perkotaan,” pemaparan Harriadi.
Paparan dari Direktur Utama Apartemen di Palembang City Center, Nicodemos Kasan Kurniawan, “Kesempatan bisnis apartemen masih sangat menggiurkan, dikarenakan belum banyak pembangunannya di tengah perkembangan jaman menuju metropolitan,”
Nicodemos menambahakan “Sampai sekarang baru terdapat tiga apartemen yang siap dibangun, tetapi dengan jumlah penduduk di atas 3 juta jiwa, dan jumlah tersebut masih belum dipenuhi,”.
Karna hal tersebut tim Nicodemos berminat memanfaatkan peluang dengan membangun apartemen mewah dilahan sekitar 2,5 hektare yang terletak di pusat kota.
Apartemen tersebut akan dihargai lebih dari Rp 1 Miliar, dengan memiliki fasilitas hotel bintang lima dan memiliki tower 200 unit yang setiap towernya memiliki tinggi 34 lantai.
Nicodemos menjelaskan “Di Palembang tidak ada perumahan mewah di pusat kota, begitupun dengan apartemen. Ini peluang yang harus kami manfaatkan, karena banyak kalangan yang tidak ingin repot, apalagi Palembang sudah padat dan macet,”
Peluang tersebut sudah banyak dilirik kalangan pengusaha yang berbisnis dibidang properti, tapi hingga kini belum ada apartemen yang terealisasi. Karena dari empat pengusaha yang ada baru hanya sebatas mengurus pembebasan lahan.
- See more at: http://www.peluangproperti.com/berita/properti/2015-05/5639/pengembang-apartemen-di-palembang-akan-meningkat#sthash.gR6kbzXK.dpuf

Pengembang Apartemen di Palembang Akan Meningkat

Pengembang Apartemen di Palembang Akan MeningkatIlmu Sipil
Bisnis properti di Palembang diramalkan akan menanjak pada tiga tahun yang akan datang atau bertepatan pada acara akbar Asian Games 2018, dengan prediksi pada saat itu masyarakat dalam kelas menengah ke atas telah menyadari akan fungsi penting hunian vertikal.
Harriadi Benggawan, menjabat sebagai Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) di Provinsi Sumatera Selatan mengatakan, kini masyarakat di daerah Palembang mulai menyadari kegunaan apartemen, seiring dengan boomingnya penawaran dalam empat tahun terakhir ini.
Diperkirakan waktu puncak banyak masyarakat yang membeli apartemen adalah pada tahun 2018, dengan dibarengi pertumbuhan Kota Palembang yang menjadi kota metropolitan.
Ujar Harriadi pada hari Jumat 15 Mei “Kini sedang tahap pengenalan dan promosi, dan nanti sekitar dua sampai tiga tahun yang akan datang baru akan terlihat hasilnya. Banyak dari kalangan menengah atas yang akan berminat tinggal di apartemen,”
Hirriadi pun menambahkan, beberapa fasilitas yang diperoleh ketika memilih tinggal di apartemen. Terjaminnya keamanan dan mudah terjangkau karna biasanya apartemen berada di pusat kota.
“Kota Palembang nantinya akan terus tumbuh menjadi kota metropolis. Dikarenakan bangunan apartemen akan jadi suatu kebutuhan masyarakat perkotaan,” pemaparan Harriadi.
Paparan dari Direktur Utama Apartemen di Palembang City Center, Nicodemos Kasan Kurniawan, “Kesempatan bisnis apartemen masih sangat menggiurkan, dikarenakan belum banyak pembangunannya di tengah perkembangan jaman menuju metropolitan,”
Nicodemos menambahakan “Sampai sekarang baru terdapat tiga apartemen yang siap dibangun, tetapi dengan jumlah penduduk di atas 3 juta jiwa, dan jumlah tersebut masih belum dipenuhi,”.
Karna hal tersebut tim Nicodemos berminat memanfaatkan peluang dengan membangun apartemen mewah dilahan sekitar 2,5 hektare yang terletak di pusat kota.
Apartemen tersebut akan dihargai lebih dari Rp 1 Miliar, dengan memiliki fasilitas hotel bintang lima dan memiliki tower 200 unit yang setiap towernya memiliki tinggi 34 lantai.
Nicodemos menjelaskan “Di Palembang tidak ada perumahan mewah di pusat kota, begitupun dengan apartemen. Ini peluang yang harus kami manfaatkan, karena banyak kalangan yang tidak ingin repot, apalagi Palembang sudah padat dan macet,”
Peluang tersebut sudah banyak dilirik kalangan pengusaha yang berbisnis dibidang properti, tapi hingga kini belum ada apartemen yang terealisasi. Karena dari empat pengusaha yang ada baru hanya sebatas mengurus pembebasan lahan.

Sumber : Detik Us
- See more at: http://www.peluangproperti.com/berita/properti/2015-05/5639/pengembang-apartemen-di-palembang-akan-meningkat#sthash.lZbCvheG.dpuf

Pengembang Apartemen di Palembang Akan Meningkat

Pengembang Apartemen di Palembang Akan MeningkatIlmu Sipil
Bisnis properti di Palembang diramalkan akan menanjak pada tiga tahun yang akan datang atau bertepatan pada acara akbar Asian Games 2018, dengan prediksi pada saat itu masyarakat dalam kelas menengah ke atas telah menyadari akan fungsi penting hunian vertikal.
Harriadi Benggawan, menjabat sebagai Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) di Provinsi Sumatera Selatan mengatakan, kini masyarakat di daerah Palembang mulai menyadari kegunaan apartemen, seiring dengan boomingnya penawaran dalam empat tahun terakhir ini.
Diperkirakan waktu puncak banyak masyarakat yang membeli apartemen adalah pada tahun 2018, dengan dibarengi pertumbuhan Kota Palembang yang menjadi kota metropolitan.
Ujar Harriadi pada hari Jumat 15 Mei “Kini sedang tahap pengenalan dan promosi, dan nanti sekitar dua sampai tiga tahun yang akan datang baru akan terlihat hasilnya. Banyak dari kalangan menengah atas yang akan berminat tinggal di apartemen,”
Hirriadi pun menambahkan, beberapa fasilitas yang diperoleh ketika memilih tinggal di apartemen. Terjaminnya keamanan dan mudah terjangkau karna biasanya apartemen berada di pusat kota.
“Kota Palembang nantinya akan terus tumbuh menjadi kota metropolis. Dikarenakan bangunan apartemen akan jadi suatu kebutuhan masyarakat perkotaan,” pemaparan Harriadi.
Paparan dari Direktur Utama Apartemen di Palembang City Center, Nicodemos Kasan Kurniawan, “Kesempatan bisnis apartemen masih sangat menggiurkan, dikarenakan belum banyak pembangunannya di tengah perkembangan jaman menuju metropolitan,”
Nicodemos menambahakan “Sampai sekarang baru terdapat tiga apartemen yang siap dibangun, tetapi dengan jumlah penduduk di atas 3 juta jiwa, dan jumlah tersebut masih belum dipenuhi,”.
Karna hal tersebut tim Nicodemos berminat memanfaatkan peluang dengan membangun apartemen mewah dilahan sekitar 2,5 hektare yang terletak di pusat kota.
Apartemen tersebut akan dihargai lebih dari Rp 1 Miliar, dengan memiliki fasilitas hotel bintang lima dan memiliki tower 200 unit yang setiap towernya memiliki tinggi 34 lantai.
Nicodemos menjelaskan “Di Palembang tidak ada perumahan mewah di pusat kota, begitupun dengan apartemen. Ini peluang yang harus kami manfaatkan, karena banyak kalangan yang tidak ingin repot, apalagi Palembang sudah padat dan macet,”
Peluang tersebut sudah banyak dilirik kalangan pengusaha yang berbisnis dibidang properti, tapi hingga kini belum ada apartemen yang terealisasi. Karena dari empat pengusaha yang ada baru hanya sebatas mengurus pembebasan lahan.

Sumber : Detik Us
- See more at: http://www.peluangproperti.com/berita/properti/2015-05/5639/pengembang-apartemen-di-palembang-akan-meningkat#sthash.lZbCvheG.dpuf

sejuk tinggal di Apartment





Tinggal di Apartemen

Kalau saya perhatikan, lima sampai sepuluh tahun belakangan ini, sangat marak pembangunan hunian vertikal (vertical housing), seperti rumah susun, apartemen, kondominium, atau apa lah itu istilahnya. Terlebih di kota besar seperti Jakarta. Biasanya bangunannya terintegrasi dengan bangunan lain seperti mal atau kantor. Harganya juga, setahu saya, amat fantastis. Harus merogoh kantong cukup dalam untuk menebusnya.
Saya sendiri cuma bisa jadi “pengamat” saja. Saya tidak pernah memiliki unit apartemen, jadi otomatis saya tidak pernah tinggal di apartemen. Saya hanya bisa melihat dari kejauhan sambil bertanya-tanya: bagaimana sih rasanya tinggal di apartemen?
Setidaknya sampai saat ini, saya sama sekali tidak berminat membeli unit apartemen. Selain karena memang gak punya duit, saya membayangkan betapa bosannya tinggal di bangunan seperti itu. Di masa depan, ketika akan membeli hunian, pilihan saya tetap pada perumahan “normal” saja. Kalaupun ada kelebihan uang dan akhirnya membeli unit apartemen, mungkin cuma untuk dijadikan “back-up” atau sarana investasi semata. Hunian utamanya ya tetap di perumahan “normal” tadi.

Beberapa waktu yang lalu, sahabat saya, seorang teman dari SD, SMP, sampai SMA, mengajak saya untuk nginep di apartemennya di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan. Rencananya, kami mau lari pagi di car free day (CFD) yang rutin diselenggarakan di sepanjang Jalan Sudirman – Thamrin, Jakarta. Jadi supaya lebih enak berangkatnya (baca: lebih dekat), saya disuruh nginep di apartemennya.
Saya sendiri baru tahu kalau dia tinggal di apartemen. Selama ini dia selalu bilang kalau dia tinggal di Kalibata, di tempat tantenya. Ternyata, dia sudah cukup lama menempati sebuah unit apartemen di lantai 16.
Saya tinggal di apartemennya dua hari satu malam. Kurang dari 24 jam lamanya. Banyak pengalaman baru yang saya dapatkan, juga cerita-cerita menarik yang diceritakan oleh sahabat saya itu.
Apartemen, agaknya memang semakin menjadi trend baru hunian di Indonesia, khususnya di kota besar. Sebenarnya, model hunian vertikal semacam ini sudah ada dari dulu. Di daerah Klender misalnya, sejak dulu di sana ada rumah susun yang dikelola oleh Perum Perumnas. Pakde saya dulu tinggal di salah satu unitnya, jadi sewaktu kecil saya sering main ke sana.
Memang bangunannya tidak tinggi menjulang seperti apartemen zaman sekarang. Paling hanya 4 – 5 lantai. Bangunannya juga biasa, gak ada bagus-bagusnya. Sangat dekil bahkan. Kesan yang timbul, hunian tersebut adalah hunian murah untuk golongan ekonomi bawah. Maaf, tidak ada maksud melecehkan, tapi itu memang kesan yang saya tangkap.
Kadang, saya salut sama yang namanya developer alias pengembang properti. Mereka bisa “menyulap” lahan tak bernilai, menjadi kawasan fungsional berharga selangit. Lihat saja kawasan Kelapa Gading. Kata orang tua saya yang asli Jakarta, daerah Kelapa Gading itu dulu rawa-rawa sepi nan horor. “Tempat jin buang anak” istilahnya. Sekarang? Jangan tanya. Harga tanahnya selangit. Anak jin yang terbuang sepertinya gak sanggup membelinya.
Semua itu hasil pengembangan yang dilakukan oleh si pengembang properti tadi. Dengan cermat, mereka membuat tanah yang tadinya tak bernilai sama sekali menjadi bernilai sangat tinggi. Mereka menciptakan “peradaban” baru di sana. Mereka mengembangkan kawasan dengan membuka akses, membangun hunian, dan membangun berbagai fasilitas pendukung yang terintegrasi satu sama lain.
Salah satu produk pengembang properti adalah hunian vertikal, apartemen misalnya. Kalau boleh nebak, kecenderungan para pengembang lebih memilih membangun hunian vertikal, terutama di tengah kota, adalah karena terbatasnya lahan. Lahan yang sempit, tentu tidak memungkinkan untuk dibuat perumahan “normal”. Karenanya, dibangunlah hunian yang “menumpuk” ke atas.
Awalnya saya mikir, apa ada orang yang mau tinggal di hunian yang saling “tindih menindih” begitu. Tapi pada kenyataannya, kalau diperhatikan, ada juga. Sangat banyak bahkan. Apartemen itu, sejauh yang saya perhatikan, bahkan ketika bangunannya belum jadi, belum dibangun, bahkan ground breaking aja belum, sudah laku keras. Sudah laku terjual semua unitnya, atau sebagian besanya lah.
Ada beberapa faktor kalau boleh nebak lagi. Pertama, developer tidak sekadar membangun apartemennya saja, tapi juga berbagai fasilitas pendukungnya, seperti pusat perbelanjaan, pusat bisnis, juga akses jalan. Termasuk dalam hal ini, pemilihan lokasi. Biasanya pengembang memilih lokasi yang strategis. Strategis menurut mereka: berada dekat kawasan aktivitas manusia, seperti perkantoran, kampus, pusat perbelanjaan, dan lainnya. Kalaupun dirasa kurang strategis, ya gimana caranya pokoknya dibuat jadi strategis.
Kedua, developer benar-benar serius menggarap urusan branding dan marketing, tidak main-main. Mereka menarik calon pembeli potensial dengan berbagai cara. Iklan di media misalnya, jor-joran sekali. Bahkan ada yang membeli slot acara di TV selama setengah jam sampai satu jam untuk ngiklanin produk apartemen mereka. Ketika me-launching produk, caranya juga unik. Misalnya saja, diskon gede–gedean selama periode tertentu, harga naik mulai hari senin (gak ngerti saya kenapa selalu senin yang dipilih), undian berhadiah mobil, dan sebagainya.
Mereka juga seolah mem-“brainwash” masyarakat dengan memperkenalkan gaya hidup modern ala mereka. Bahwa manusia modern zaman sekarang itu tinggal di apartemen, di lokasi yang strategis di pusat kota, dekat dengan tempat kerja, terintegrasi dengan berbagai fasilitas pendukung yang membuat hidup menjadi semakin mudah, dan sebagainya.
Intinya, semuanya dikemas dalam konsep marketing yang apik dan gak setengah-setengah.
Ketiga, didukung oleh daya beli masyarakat yang meningkat. Pak SBY selalu bangga dengan prestasinya yang berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 6% dan menjaga Indonesia tidak ikut kolaps ketika negara lain ekonominya bermasalah. Salah satu konsekuensi pertumbuhan ekonomi, yang pernah saya baca, adalah meningkatnya daya beli masyarakat, yang selanjutnya memunculkan banyak kelas menengah. Kelas menengah inilah, ditambah dengan kelas atas tentunya, yang menjadi penebus unit-unit apartemen yang ditawarkan oleh pengembang.
Satu hal yang saya pikirkan ketika sedang berjalan menyusuri lorong menuju kamar sahabat saya adalah masalah sosialisasi antar penghuni. Apakah dengan model bangunan seperti itu menciptakan masyarakat yang individual? Entahlah. Menurut penuturan sahabat saya itu, dia sendiri tidak kenal tetangga kanan kiri depan belakangnya. Padahal sudah sekian tahun tinggal di sana.
Satu-satunya wadah sosialisasi yang dia lakukan adalah main basket di lapangan basket bersama yang tersedia di setiap tower. Dia memang penghobi basket, jago banget mainnya. Dari sana, dia mengenal beberapa orang penghuni lain. Hanya saja, penghuni yang dia kenal itu tinggal di lantai berbeda, yang cukup jauh dari unitnya.
Apalagi, kebijakan pengelola apartemennya lumayan unik. Kartu akses yang dimiliki setiap penghuni, yang salah satu fungsinya sebagai “kunci” lift, hanya membolehkan penghuni menekan tombol lantai di mana lokasi unitnya berada. Jadi, kalau dia tinggal di lantai 16, maka tombol lift yang bisa dipencet hanya tombol angka 16 dan lantai dasar (ground; G).
Tapi saya pikir, harusnya ada juga apartemen yang punya sosialisasi yang “normal” antar penghuninya seperti di perumahan pada umumnya, misalnya menyelenggarakan arisan, pengajian, semacam rapat RT, lomba 17-an, dan sebagainya. Entahlah, saya tidak tahu. Cuma berkeyakinan, harusnya ada.
Tinggal di apartemen itu pilihan, sama seperti banyak hal lain dalam hidup. Setelah pengalaman 24 jam kurang sedikit tinggal bersama sahabat saya di apartemennya, saya tetap pada kecenderungan yang saya ceritakan di awal tadi: tidak berminat, atau mungkin, belum berminat tinggal di apartemen.
Apartemen ini berada di kelender, jakarta kota.

Tinggsl diApertemen sangat menyenangkan



Keuntungan Tinggal di Apartemen - Tinginya jumlah aktivitas masyarakat ditengah kota Jakarta  membuat masyarakat urban sibuk dan mempusatkan segala aktivitasnya di kota. Hal ini mendukung harga tanah di pusat kota yang akhirnya menjadi sulit dijangkau oleh setiap lapisan masyarakat. Tinggal di apartemen menjadi salah satu alternatif pilihan yang dianggap lebih praktis dibandingkan harus pulang oergi ke pinggir kota. Namun pola pandang masyarakat berkembang yang belum terbiasa membuatnya menjadi terkesan mahal dan glampur. Padahal jika ditelisik  lebih jauh, harga apartemen bersaing dengan rumah tanah di perkotaan. Berikut beberapa kelebihan tinggal di apartemen:

1. Cost bulanan yang tidak terbuang percuma begitu saja

Memang ada cost tambahan seperti maintenance fee dan service change yang harus dibayar setiap bulannya. Namun itu artinya penghuni tidak perlu lagi repot atau menambah uang ekstra untuk mengurus taman, sarana pembuangan, air, atau sirkulasi udara karena sudah ada pengeola yan bertanggung jawab akan hal itu biasanya biaya ini dihitung tiap meter persegi dari luas unit apartemen yang dimiliki.

2. Privacy

Tinggal di apartemen memang tidak sebebas tinggal dirumah karena ada peraturan pengelola yang harus dipatuhi misalnya larangan membawa binatang peiharaan. Anda juga harus menjaga ketenangan agar tidak mengganggu penghuni lainnya. Namun ada kelebihan lain yakni tetangga yang tidak terlalu mengusik Anda. Hal ini kadag dicari oleh masyarakat modern.

 

3. Lokasi Strategis

Kelebihan lain untuk mereka yang ingin tinggal di apartemen ialah lokasinya yang strategis dan tepat di tengah kota sehingga Anda dapat menghemat energi dibandingkan harus bermacet-macetan ke lokasi rumah yang jauh dari tempat aktivitas. Otomatis akan ada ekstra waktu untuk beristirahat.

4. Keamanan

Tingkat keamanan apartemen juga cenderung lebih baik karena adanya penjagaan 24 jam dan cctv uang memantau, sehingga penghuni dapat lebih tenang ketika harus meninggalkanunitnya. Ini merupakan hal yang penting karena sebagian besat masyarakat perkotaan yang bekerja akan lebih banyak menghabiskan waktunya di luar, baik untuk bekerja, makan atau rekreasi.

5. Tersedianya fasilitas umum

 
 Keuntunngan lain adalah adanya fasilitas umum yang bisa digunakan seperti fitness center, kolam renang, atau jogging track. Dengan menggunakan fasilitas yang disediakan oleh apartemen maka Anda akan dapat mengirit biaya dibandingkan harus ikut klub kebugaran tempat tinggal Anda.

Jika meihat hal tersebut, mungkin apartemen menjadi tidak terlalu mahal dibandingkan rumah tanah di tengah kota. Namun pilihan tinggal di apartemen atau landed house memang sebaiknya kembali ke aktivitas sehari-hari.

Semoga Bermanfaat